Yagna Semesta Initiative

Nyemplung Jangan Nanggung — Catatan dari Kursi Moderator

Padahal, kalau mereka ingin band-nya punya visi yang jelas, obrolan macam begini justru penting: soal manajemen, jejaring, dan profesionalitas.


(RembukAn Vol. 3, Lombok Astoria, 20 Oktober 2025)

Saya sudah menduga sejak awal: diskusi ini bakal penting, tapi yang datang kemungkinan tetap itu-itu saja. Tema “Nyemplung Jangan Nanggung” sebetulnya relevan banget untuk anak-anak band kekinian yang sedang berjuang di Lombok, tentang bagaimana membangun branding, menulis press release, bersikap di panggung, sampai berkomunikasi dengan EO dan vendor. Tapi prediksi saya tepat: malam itu, di lobi hotel mewah Lombok Astoria, kebanyakan yang hadir bukan anak band, melainkan orang-orang belakang panggung: EO, promotor, vendor, dan sound engineer. Sebagian dari mereka generasi milenial, sebagian lagi malah baby boomers yang sudah kenyang pengalaman di lapangan.

Para personel band? Bisa dihitung dengan jari.

Saya paham betul. Duduk manis mendengar orang ngoceh di forum bukan hal yang menyenangkan buat anak band. Mereka lebih suka ngulik gitar, bikin lagu, atau utak-atik sound di kamar. Diskusi buat mereka terasa seperti rapat RT, banyak bicara dan kaku. Padahal, kalau mereka ingin band-nya punya visi yang jelas, obrolan macam begini justru penting: soal manajemen, jejaring, dan profesionalitas. Tapi ya, generasi hari ini tampaknya makin alergi dengan hal-hal yang dianggap “basa-basi”.

Mungkin juga karena tempatnya. Lobi hotel berbintang memang tidak terasa “indie” sama sekali. Diskusi musik di ruangan yang biasanya dipakai untuk rapat bisnis jelas bikin sebagian orang sungkan. Ditambah hujan sore itu, dan lokasi yang agak jauh dari pusat kota, hasilnya ya begitu, yang datang orang-orang yang sama seperti acara sebelumnya. Tapi ya, show must go on.

Layout ruang diskusi dibuat agak nyeleneh. Para pemantik duduk tak berjejer, tapi berpencar di titik-titik berbeda. Sebagai moderator, saya merasa seperti Karnil Ilyas di acara ILC, berjalan ke sana kemari, menatap setiap arah, memastikan semua yang hadir merasa dilibatkan. Saya membuka acara dengan sedikit basa-basi, lalu langsung menodong Gilang Sakti Ramadhan, jurnalis musik yang malam itu duduk santai di kursi panelis.

Gilang membuka dengan nada tegas.

“Sosmed bukan indikator keberhasilan band. Followers dan viewers bisa saja dibeli.”

Ia menekankan perlunya tolok ukur yang lebih jelas daripada sekadar melihat postingan di media sosial. Menurutnya, karya yang baik tetap jadi amunisi utama sebuah band untuk naik level. Tapi karya saja tak cukup—perlu pengelolaan ekosistem musik yang sehat: gigs berkelanjutan, dukungan lintas komunitas, dan kolaborasi antargenerasi. Gilang lalu mengibaratkan industri musik di Jakarta sebagai “jalan tol macet yang penuh truk enam belas roda” artis besar yang masih eksis dan sulit disalip pendatang baru. Band daerah seperti dari Lombok, katanya, harus kerja dua kali lebih keras, lewat kerja kolektif dan lintas bidang: teater, sastra, rupa, apa saja.

Saya mengangguk setuju, meski di kepala ada hal lain yang tak sempat saya sampaikan di forum.
Ya, soal media sosial memang bukan satu-satunya tolok ukur, tapi tetap penting untuk dikelola. Terlebih bagi band baru di era terkini. Bukan soal jumlah pengikut, melainkan kesan yang muncul dari unggahan mereka: bagaimana membawakan diri, siapa jejaringnya, dari mana mereka berasal. Biasanya setelah itu saya buka Spotify untuk dengar lagunya, lalu YouTube untuk lihat performa live. Media sosial bagi saya adalah etalase awal—pintu yang membuka akses pendengar pertama kali.

Kalau saya promotor, saya pasti menjadikan akun media sosial band sebagai indikator awal: apakah mereka serius atau sekadar main-main. Saya membayangkan, sebagai jurnalis, Gilang akan mengulik lebih dalam soal press release dan caption yang ngehook, tapi arah pembicaraannya justru lebih lebar jadi kuliah umum tentang pembangunan ekosistem musik lokal. Dengan gaya tegas, nada separuh orasi, Gilang seperti dosen yang sedang menegur anak-anaknya sendiri agar lebih serius mengurus rumah bernama industri musik Lombok.

Setelah itu, giliran Hendro Sugito atau yang akrab disapa Itok. Ia EO, sekaligus aktivis event. Dengan nada gregetan, ia menembakkan kalimat yang langsung kena di dada:

“Setiap forum begini, yang datang itu-itu aja. Orang-orang yang pengen menggiring band maju, tapi band-nya sendiri nggak hadir.”

Dan benar. Banyak band di Lombok memang serius menggarap karya, tapi sering malas memikirkan hal-hal di luar musik. Mereka lupa bahwa di era sekarang, anak band dituntut kerja rangkap: jadi musisi sekaligus manajer bagi dirinya sendiri, mengurus strategi rilis, komunikasi, sampai arah hidup karyanya. Sebab karya hebat tanpa manajemen dan etika kerja, pada akhirnya, hanya akan jadi artefak digital yang tenggelam di lautan algoritma.

Itok menjelaskan bedanya EO dan promotor. Sebagai EO, ia harus memenuhi permintaan klien. Kalau melibatkan band lokal, ia memilih berdasarkan profesionalitas dan basis massa, bukan sekadar skill. Kadang ia bahkan membaca data Spotify atau radio lokal untuk tahu siapa yang benar-benar punya pendengar.

“Sosmed itu bonus. Angka bisa dibeli. Tapi karya nggak bisa dibohongi,” katanya mantap mendukung pernyataan Gilang.

Saya sepakat. Sebagai orang yang juga mengelola agregator musik, saya sering bantu band lokal mengunggah lagu ke platform digital. Tapi setelah rilis? Mereka diam. Tak ada promosi, tak ada strategi. Bahkan tak bertanya soal royalti atau statistik audiens. Mereka cuma ingin diakui, cukup senang kalau lagunya “sudah ada di Spotify”. Itu semacam capaian simbolik, lebih ke validasi eksistensial daripada langkah karier.
Padahal di era digital, karya butuh strategi, bukan sekadar keberanian unggah.

Berikutnya giliran Oon Peha dari vendor Pelita Harapan, pria yang sudah malang melintang di dunia sound system dan panggung. Ia langsung menegaskan:

“Band harus punya riders!”

Menurutnya, banyak miskomunikasi antara band lokal dan penyelenggara hanya karena hal-hal sepele: kabel, ampli, bahkan posisi drum.

“Masih banyak band yang menjadikan soundcheck sebagai ajang latihan,” ujarnya, disambut tawa kecil dari peserta.

Saya nyengir, karena itu kenyataan. Banyak band datang ke soundcheck tanpa tahu apa yang mau dicek. Tak paham kebutuhan teknisnya sendiri, apalagi arti rider selain daftar alat hasil copy-paste dari Google. Kadang mereka minta alat tak masuk akal untuk panggung seukuran kafe kecil. Tapi dari situ justru kelihatan tingkat profesionalitasnya.
Oon menutup dengan kalimat yang tajam:

“Pemain musik harus paham sedikit soal sistem audio. Riders itu bukan gaya-gayaan, tapi komunikasi. Dan komunikasi adalah akar profesionalitas.”

Sesi tanya-jawab jadi ruang refleksi.
Dede dari band Albert in Space berbagi keresahan. Mereka sudah berdiri sejak 2016, punya dua album, tapi bayaran manggung Rp3 juta membuat mustahil menggaji sound engineer atau crew.

“Dilematis. Kita dituntut belajar profesional, tapi kalau bayaran segitu, bagaimana mau bagi untuk tim?” ujarnya jujur.

Itok menanggapinya dengan tenang.

“Kami EO siap bantu fasilitasi kebutuhan teknis kalau dikomunikasikan sejak awal. Tapi kalau band makin besar dan bisa datangkan massa, tentu nilai bayaran juga akan naik. Saat itu, silakan bentuk tim profesional sendiri,” katanya.

Lalu saya menodong Lalu Rio, promotor musik independen yang kerap menggelar acara gigs di Mataram. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara EO dan promotor.
Menurutnya, banyak musisi lokal sebenarnya tak ingin terkenal, dan itu sah saja. Tapi apapun orientasinya—kesenangan, ekspresi, atau karier—profesionalitas tetap wajib.

“Bersenang-senang pun akan lebih menyenangkan kalau dikelola dengan baik,” ujarnya.

Dari barisan belakang, Andi seorang ekonom kreatif mengangkat perspektif makro. Ia membandingkan ekosistem musik Lombok dengan Tiongkok dan New York yang tumbuh by design. Di sana, katanya, ada sistem: regulasi, investasi, hingga perlindungan kerja kreatif.

“Kalau ada yang bisa desain sistem ekosistem musik Lombok dengan jelas, saya siap datangkan investor,” tantangnya.
Ruangan langsung riuh tepuk tangan.

Judul malam itu terasa makin relevan: Nyemplung Jangan Nanggung. Karena memang, terjun ke dunia musik butuh keberanian sekaligus kesadaran. Banyak band sudah nyebur ke kolam industri, tapi belum bisa berenang. Ada yang tenggelam dalam ego, ada yang hanyut di algoritma, ada pula yang diam di dasar, puas karena lagunya “sudah ada di Spotify”.

Musik, pada akhirnya, bukan cuma soal bunyi-bunyian. Ia adalah cara hidup—tentang jejaring, komunikasi, etika, dan penghargaan terhadap proses.

Dan malam itu, di lobi hotel yang kursinya terlalu empuk untuk diskusi musik indie lokal, saya menutup acara dengan satu kalimat sederhana:

“Kalau sudah nyemplung, jangan nanggung. Karena di dunia musik, yang setengah hati hanya akan tenggelam.”


Deretan pendukung acara ini memperlihatkan betapa kuatnya ekosistem musik dan kreativitas lokal di Lombok. Rembukan Vol. 3 “Nyemplung Jangan Nanggung” tak berdiri sendiri—ia disokong oleh Sanparis Custom Visual dan Madvox Store. Lalu deretan lainnya: Giga, Kings Maker, Kirikanan, Lombok Astoria, dan Pepadu Badjang sebagai bentuk nyata kolaborasi lintas lini. Kehadiran media partner seperti Konser Lombok, Harian Musik Lombok, Lombok 24 Jam, Lombok Urban Society, Room Project, Event Lombok, Noise Tenggara, Dinamika Kolektif, hingga Media Karra, semakin menegaskan bahwa acara ini adalah hasil gotong royong para pelaku ekosistem: musisi, media, dan ruang kreatif. Semua bergerak bersama, membangun kesadaran bahwa dunia musik tak cukup hanya dengan “nyemplung” tapi harus dengan kesungguhan, arah, dan jejaring yang saling menopang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *