Ada banyak cara untuk mengapresiasi karya seni. Setiap orang memiliki cara pandang dan sensitivitas yang berbeda dalam menilai keindahan—bergantung pada sense of beauty yang dimilikinya. Namun pada hakikatnya, mengapresiasi seni berarti hadir sepenuhnya: menghayati maknanya, menimbang nilainya, hingga mampu menyadari keindahan yang terkandung di dalamnya. Kesadaran ini kerap melahirkan respons: bisa berupa kritik yang membangun, bisa pula berupa penghargaan yang empatik dari seorang apresian kepada sang pengkarya.
Kesadaran itulah yang mendorong Komunitas Rumah Kucing Montong—atau yang akrab disebut eRKaeM—menggelar Erkaem Award 2019: Tribute to Pengsong. Sebuah inisiatif yang lahir dari semangat gerilya seni, untuk menunjukkan bahwa seni tak melulu soal panggung besar atau gemerlap sorotan, tapi juga tentang keberanian untuk menghargai, walau dengan cara yang sederhana.
Erkaem Award adalah program apresiasi yang digagas oleh sekelompok seniman di Lombok. Tujuannya sederhana namun esensial: memberikan penghargaan kepada seorang pengkarya seni yang telah memberikan kontribusi penting dalam khazanah kesenian, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Edisi perdananya akan digelar pada hari Minggu, 30 Juni 2019, bertempat di Rumah Kucing Montong (BTN Montong Keadaton, Meninting, Kabupaten Lombok Barat).
Tim kurator yang dibentuk oleh eRKaeM telah menentukan sosok yang akan menerima penghargaan pertama ini: I Wayan Pengsong, seorang pelukis yang karyanya memiliki jejak kuat dalam sejarah seni rupa di Lombok.
I Wayan Pengsong lahir di Cakranegara, Bali, pada 15 Desember 1943, namun hidup dan berkarya di Lombok selama sebagian besar hidupnya. Kecintaannya pada tanah Lombok terpatri dalam karya-karyanya yang banyak merepresentasikan arsitektur lokal dan nuansa budaya Sasak. Dua di antara karya besarnya bahkan menjadi koleksi tetap di Galeri Nasional Indonesia—lukisan “Panen” (1991) dan “Pasar di Tepi Pantai” (1983). Pengsong wafat pada 11 Agustus 2016, namun warisannya di dunia seni tetap hidup dan berpengaruh.
Sebagai bentuk penghormatan, Tribute to Pengsong akan diisi oleh beragam kegiatan yang mencerminkan semangat kolektif para seniman: pameran seni rupa, pembacaan puisi, pertunjukan teater monolog, pemutaran video dokumenter, diskusi terbuka, dan tentu saja, puncak acara berupa penyerahan penghargaan secara simbolis dari eRKaeM kepada keluarga almarhum Pengsong.
Beberapa nama yang terlibat dalam perhelatan ini adalah seniman-seniman yang telah cukup dikenal: Ary Juliyant, Arief Firmansah, Sidzia Madvox, Paris Hasan, dan Reva Adhitama akan menyumbangkan karya dalam pameran rupa. Kiki Sulistyo akan tampil membacakan puisi, Novrie Vie beraksi dalam teater monolog, serta Suradipa dan kelompok musik Yoiakustik mengisi panggung musik. Pemutaran video dokumenter akan dibawakan oleh Ridho Zikrimaula, sementara sesi diskusi akan menghadirkan dua putra almarhum Pengsong: I Wayan Geredeg dan Mantra Ardhana. Seluruh rangkaian acara ini akan diarahkan oleh Yuga Anggana, pengelola aktif komunitas eRKaeM.
Penghargaan kepada pengkarya seni bukanlah hal baru di Indonesia. Banyak komunitas dan lembaga telah melakukannya, dari skala lokal hingga nasional. Namun di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Pulau Lombok, tradisi apresiasi semacam ini belum menjadi kebiasaan yang mengakar. Masih jarang terdengar kabar tentang tokoh seni yang mendapat penghormatan secara terbuka, apalagi diberikan oleh komunitas secara mandiri.
Melalui Erkaem Award, eRKaeM ingin menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar seremoni penghargaan. Ini adalah bentuk kritik dan sekaligus stimulus. Sebuah ajakan kepada masyarakat, juga kepada institusi-institusi yang berkaitan, agar lebih peduli terhadap dunia seni dan para pengkaryanya. Karena menghargai seni berarti menghargai kehidupan. Dan hidup, seperti seni, butuh dirayakan—dengan kesadaran, bukan sekadar formalitas.
eRKaeM, 26 Juni 2019