Jumat siang, 25 Agustus 2017. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Dari Ari Garmono. Ia meminta saya membuat musik ilustrasi untuk film pendek yang akan ia bintangi. Bukan tawaran yang asing sebenarnya. Di masa lalu, saya pernah mencicipi pengalaman serupa: menggubah musik untuk film pendek karya Hastanto dari 24apple di Bandung. Pernah juga mengisi suara untuk dokumenter tentang Cirebon, membuat musik tari, sampai mengerjakan efek suara untuk panggung teater di Yogyakarta. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Entah kenapa.
Saya sempat ragu. Waktu yang diberikan sangat sempit—kurang dari dua hari untuk film berdurasi 22 menit. Dan yang lebih berat: saya tak terlibat sejak awal. Tak sempat membaca naskah, tak mengenal para tokoh, tak menghirup udara lokasi syuting. Padahal, bagi saya, memahami jiwa sebuah film bukan soal teknis semata. Ia butuh perjumpaan batin, ruang untuk bernafas dan menyelami irama cerita. Tapi entah kenapa, semangat Ari dan kawan-kawan malam itu terasa begitu menular. Mungkin karena saya melihat di mata mereka sesuatu yang nyaris punah: gairah yang jujur.
Malam Sabtu, Trish Pradana—sutradara film itu—datang membawa preview filmnya. Judulnya Bully Billa. Kami menonton bersama. Setelahnya, kami bicara lama: tentang tokohnya, ritme adegan, dan maksud-maksud tersembunyi yang ingin Trish sampaikan. Saya senang karena Trish memberi ruang. Memberi saya tempat untuk ikut menghayati film ini, bukan sekadar menjadi buruh nada. Percakapan itu menjadi titik tolak saya menyusun musiknya.
Film ini seperti roller coaster. Adegan tenang bisa tiba-tiba berganti ketegangan. Konflik meruncing, lalu tiba-tiba mencair dalam tawa. Komedi yang manis bersisian dengan keresahan yang getir. Saya tahu musik harus ikut menari dalam tempo yang serba cepat ini. Ia tak boleh tertinggal, tak boleh berlebihan. Ia harus hadir, tapi tak mencuri panggung.
Saya bekerja di studio kecil dengan senjata digital yang sudah jadi kawan lama: Cubase 5, Edirol Orchestra, Kontakt, EZ Drum. Piano jadi instrumen utama, ditemani string dan perkusi sebagai penutur suasana. Dalam hati, saya terus mengingat pesan yang pernah disampaikan Prof. Rahayu Supanggah, guru saya di ISI Surakarta: musik ilustrasi yang baik adalah musik yang membuat gambar bergerak menjadi lebih hidup, tanpa membuatnya kehilangan arah.
Inspirasi lain datang dari Hans Zimmer. Ia bukan hanya komposer, tapi arsitek rasa. Setiap kali saya mendengar Time dari Inception, saya merasa seperti sedang duduk di tepi jurang ingatan. Musik bisa melakukan itu. Bisa membangun jembatan dari layar menuju dada.
Dalam Bully Billa, Trish memudahkan saya dengan mengosongkan suara di beberapa bagian film. Saya diberi ruang untuk mengisi kekosongan itu, menjadikannya getaran. Kami juga sepakat bahwa musik utama akan dibangun dari tema lagu “Cerah Kembali” milik Sixteen Plus yang muncul di akhir film. Dari sana saya meracik motif-motif kecil, memainkannya dengan piano atau flute, menyesuaikannya dengan suasana: apakah adegannya sendu, hangat, atau jenaka.
Saran berharga juga datang dari seorang kawan, Pantjoro Sumarsa, komposer dari Lombok. Ia bilang, buat saja satu tema utama yang utuh, lalu kembangkan ke mana pun cerita membawa. Saya ikuti nasihat itu. Dan saya menemukan satu hal lagi: menggunakan satu tonalitas sepanjang film membuat transisi antar adegan terasa lebih mulus. Dengan satu tangga nada, saya bisa menjelajah dari tawa ke tangis, dari gelisah ke bahagia, tanpa harus berpindah kunci yang membingungkan telinga.
Saya belajar menahan diri. Musik yang baik dalam film bukanlah musik yang paling keras terdengar, tapi yang paling dalam terasa. Saya ingin ketika orang mendengar melodi film ini, mereka langsung terlempar ke adegan tertentu. Seperti halnya saya setiap kali mendengar dentuman Pirates of the Caribbean atau The Avengers, dan langsung membayangkan layar penuh ledakan dan keberanian.
Hingga tulisan ini dibuat, saya belum menyaksikan versi final Bully Billa. Mungkin itu memang yang terbaik. Biar hasil akhirnya menjadi kejutan. Saya sudah menitipkan sebait rasa ke dalam musiknya. Selebihnya, biarlah penonton yang menilai: apakah nada-nada itu berhasil menemani perjalanan mereka, atau justru tenggelam dalam sunyi.
Saya hanya berharap satu hal: semoga musik itu bisa mengantar cerita. Tak perlu menjadi pahlawan. Cukup jadi sahabat yang berjalan diam-diam di sampingnya.
YA / eRKaeM / 04092017