Yagna Semesta Initiative

Kolaborasi Cinta: Lagu dan Animasi Aku Cinta Kampungku

Mengenai lagu kedua itu, saya selalu percaya pesan tentang lingkungan atau kritik sosial lebih baik ditanamkan pada anak-anak. Kalau orang dewasa, paling-paling cuma merenung sebentar, lalu tetap saja membuang puntung rokok sembarangan

Di saat ini dan nanti, masih mampukah kita membayangkan kampung yang indah dan asri?

Siapa sangka, lirik lagu “Aku Cinta Kampungku” yang saya tulis dan dinyanyikan anak-anak Sanggar Kampoeng Baca Pelangi kini benar-benar menjadi hidup. Video animasi yang baru saja dirilis menjawab semua pertanyaan di benak saya.

Saat menontonnya, saya melihat lirik-lirik itu berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata. Kupu-kupu aneka warna terbang di atas tanah lapang, pepohonan menjulang tinggi seolah menari-nari, anak-anak riang tertawa, dan sungai mengalir jernih. Semua adegan itu bersatu padu, menciptakan kembali dunia indah yang selalu saya bayangkan.

Pembuatan video ini benar-benar hasil kolaborasi yang penuh cinta. Audi Dzakwan Adiib menggarapnya dengan ilustrasi yang memikat, sementara Lalu Exel Ardi membuat setiap adegan bergerak dengan animasinya. Rekaman vokal anak-anak Kampoeng Baca Pelangi dipoles apik di BarlineAudiolab dan Masmirah Records. Saya memang mengerjakan aransemen dan musiknya, tapi tanpa dukungan semua pihak, terutama semangat kolektif teman-teman lainnya, lagu ini mungkin hanya akan jadi coretan di kertas.

Salah satu hal yang bikin saya terharu: video ini dibuat secara sukarela, murni karena kepedulian pada lagu anak, isu lingkungan, dan karya yang lahir dari tempat kecil di sudut Lombok Barat dengan semangat yang luar biasa. Di ujung video, tampaknya ada petunjuk kecil: lagu kedua, “Tetap Bergembira”, akan segera menyusul. Jika “Aku Cinta Kampungku” bercerita tentang keindahan, “Tetap Bergembira” adalah lagu anak-anak yang mulai menyadari kampung mereka tidak seindah dulu.

Mengenai lagu kedua itu, saya selalu percaya pesan tentang lingkungan atau kritik sosial lebih baik ditanamkan pada anak-anak. Kalau orang dewasa, paling-paling cuma merenung sebentar, lalu tetap membuang puntung rokok sembarangan. Beda dengan anak-anak. Mereka menyanyikan lagu seperti ini dengan imajinasi yang tulus. Mereka betul-betul melihat sungai yang kotor, lapangan yang hilang, dan kupu-kupu yang pergi. Mereka merasakannya.

Ketika mereka bernyanyi, suara mereka lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi sebuah doa dan janji, bahwa mereka ingin dunia kembali bersih. Memori tentang lagu ini akan tertanam kuat, merasuk ke alam bawah sadar, dan membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang lebih peduli pada lingkungan.

Itulah yang terjadi ketika saya menulis “Tetap Bergembira”. Jujur, awalnya saya ragu, pantas enggak ya anak-anak menyanyikan lirik tentang keresahan? Tapi Opik, penggerak Sanggar Kampoeng Baca Pelangi, meyakinkan saya: anak-anak justru harus bersikap jujur. Mereka perlu menyuarakan apa yang mereka lihat, dengan cara mereka sendiri—riang, polos, dan penuh harapan. Jadi, di lagu itu, meski sungai kotor dan lapangan hilang, anak-anak tetap riang, tetap bercanda, dan tetap yakin suatu hari nanti kupu-kupu akan kembali.

Rencana kami tidak berhenti di dua lagu itu saja. Kami ingin membuat satu album penuh, dengan alur seperti cerita bersambung: dimulai dari kampung yang indah, lalu datangnya pembangunan, hilangnya pepohonan, sampai akhirnya muncul mimpi untuk perbaikan. Semuanya tetap dalam bahasa dan nada-nada anak-anak yang ringan, tapi isinya tidak kosong. Aammiin.

Saya percaya, lagu anak tidak harus cuma berisi keceriaan semata. Lagu bisa tetap ringan dan riang, tapi membawa isu-isu penting yang melatih anak untuk berefleksi, peka terhadap isu sosial, bahkan membangun daya kritis mereka. Mungkin suatu hari nanti, saat sungai sudah jernih dan kupu-kupu tak lagi pergi, anak-anak akan menyanyikan “Tetap Bergembira” dengan nada yang berbeda—bukan lagi sebagai ajakan, melainkan sebuah perayaan. Dan di hari itu, kita akan selalu ingat bahwa semuanya bermula dari suara riang anak-anak Kampoeng Baca Pelangi, yang bernyanyi untuk bumi yang bersih, dengan keyakinan polos bahwa dunia bisa kembali baik-baik saja.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *