“Kabar duka! Diki meninggal barusan.”
Satu kalimat pendek itu tiba-tiba mendarat di layar ponsel saya, melalui pesan langsung dari seorang kawan di media sosial. Tidak ada kata pengantar. Tidak ada basa-basi. Hanya hantaman telak yang membuat dada saya tercekat. Nama itu—Diki—adalah nama yang begitu lekat dalam kisah pertumbuhan musikal saya di Tasikmalaya. Ia bukan sekadar kawan; Diki adalah orbit yang mengitari masa remaja saya, memberi gravitasi pada arah dan tujuan.
Kami bertemu pertama kali saat saya masih duduk di bangku SMA. Saat itu, Diki sudah lebih dulu dikenal sebagai dewa panggung di lintas festival band se-Priangan Timur. Ia adalah vokalis rock yang langganan juara. Sementara saya dan teman-teman masih berkutat dengan mimpi-mimpi kecil di studio sempit dan latihan sore yang selalu diakhiri dengan kebisingan.
Tahun-tahun awal 2000-an adalah masa emas festival musik di Tasik. Kala itu, festival berarti pertarungan. Parade band adalah arena. Dan musik rock adalah rajanya. Saya membentuk band pertama, Kaliber, pada 2003. Setahun kemudian, kami berhasil mencuri perhatian—menjadi juara di ajang festival band pelajar, mengalahkan puluhan grup se-Priangan Timur. Kemenangan itu seperti candu. Kami ikut lagi. Dan lagi. Meningkatkan ambisi dari level pelajar ke kategori umum. Menantang band-band dewasa, meski harus sering pulang dengan kepala tertunduk.
Di antara deretan nama besar yang kerap menjadi ancaman kami saat itu, ada Kartic, Javalodra, Sunda Modern. Tapi satu nama yang paling membuat nyali ciut adalah Kartic. Nama mereka sudah cukup untuk membuat studio menjadi sunyi. Suatu waktu kami dengar kabar Kartic mengganti vokalis. Ketika saya pertama kali mendengar suara penggantinya, saya langsung tahu: ini bukan pemain biasa.
“Gila, vokalis barunya malah lebih galak!” ujar saya. Suaranya tinggi, melengking, tapi tetap jantan. Ada serak basah yang menampar ulu hati setiap kali ia teriak. “Namanya Diki,” kata salah satu teman band saya. Ternyata ia datang dari Garut, dari band bernama Galaxy yang sudah duluan menaklukkan panggung-panggung kompetisi. Kini ia merambah ke Tasik. Band kami rasanya makin jauh tertinggal.
Waktu berlalu. Saya pindah ke Bandung untuk kuliah. Tapi hampir tiap minggu saya pulang ke Tasik. Di sanalah, di studio BEC yang saat itu masih baru, saya bertemu Diki untuk pertama kalinya. Ia sedang duduk santai, mendengarkan anak-anak muda jamming.
“Namanya sering disebut-sebut teman-teman,” katanya saat itu. Saya tersanjung. Kami berbincang seperti sahabat lama yang baru bertemu. Musik adalah bahasa kami. Tentang teknik, tentang referensi, tentang perasaan-perasaan yang tak sempat terdefinisi dalam teori.
Persahabatan kami tumbuh. Suatu sore, Diki mengajak saya membentuk komunitas musik rock.
“Yuk, bikin komunitas pecinta musik rock. Biar bisa saling berbagi.”
Saya mengangguk. Maka lahirlah Rockaholic Community Tasikmalaya. Saya dan Diki menjadi perintis. Di setiap pertemuan, kami hadir. Kami berbagi panggung, berbagi tawa, berbagi semangat. Diki makin dikenal sebagai sosok sentral dunia rock Tasikmalaya. Saya dikenal karena status “mahasiswa jurusan musik di kota besar.” Dulu, kuliah di jurusan musik adalah hal langka di Tasik, dan itu membuat saya seperti pusat informasi: teori, gosip, sampai tren terkini di Bandung.
Masuk dekade 2010-an, nama saya dan Diki kerap disandingkan sebagai juri di berbagai festival. Bukan hanya karena skill—saya di bass, Diki di vokal—tetapi karena kehadiran kami yang konsisten. Kami datang ke acara mana pun, komunitas mana pun. Forum Gitaris Tasik, Paguyuban Bassist, atau siapa saja yang mengadakan acara—kami hadir, kami mendukung. Tak peduli usia, tak peduli latar. Diki adalah sosok yang supel, tidak berjarak, mudah diterima siapa saja. Ia menjembatani ruang-ruang yang sering kali kaku dalam dunia musik.

Tahun 2011, saya pindah ke Jawa Tengah untuk melanjutkan studi pascasarjana. Diki tetap di Tasik, membangun rumah produksinya sendiri: GT Manajemen, Langit Indah Musik Indonesia, dan lainnya. Ia menjadi produser, komposer, arranger, hingga operator studio. Kami mulai jarang bertemu. Sesekali masih saling menyapa lewat dunia maya, lalu semakin jarang.
Saya lulus dan hijrah ke Lombok. Sejak itu, tak ada lagi obrolan, tak ada lagi kabar. Tapi hari ini, satu kalimat pendek dari kawan itu membuka kembali lembar demi lembar kenangan. Saya hanya bisa duduk diam. Pikiran saya dipenuhi suara Diki—teriaknya di panggung, candanya di studio, gesturnya yang konyol, dan lagu-lagu yang kami ciptakan namun belum sempat dirilis.
Saya menulis ini sebagai pengingat. Bahwa dalam perjalanan musikal saya, ada nama Diki yang menjadi penuntun arah. Ia adalah kakak. Ia adalah penggerak. Ia adalah pembina yang tak pernah menggurui, hanya menemani dengan ketulusan.
Selamat jalan, Diki. Saya akan benar-benar merindukanmu. Terutama teriakan itu—teriakan yang dulu membuat jantung saya berhenti sejenak, dan hari ini membuat hati saya terasa hampa.
